PROPOSAL
MMXXVI
sebuah undangan untuk bertetangga

Rukun Tetangga
Digital

Membawa jiwa tetangga ke dunia digital — dari Cipete hingga Amsterdam.

VOL01
TAHUN2026
RUTEJAKARTA → AMSTERDAM
EDISIPROPOSAL
gulir ke bawah
Surat untuk Tetangga

Mas Tyo,

Sepuluh tahun lalu, dari kios 16 meter persegi di Cipete, kamu mulai sesuatu yang sederhana: kopi enak, harga terjangkau, buat semua orang.

Hari ini — 72 toko. 1.040 barista. 78.000 gelas per hari. 630 petani kopi. Satu nama stasiun MRT. Dan satu toko baru di Amsterdam.

Tapi yang paling berharga bukan angkanya. Yang paling berharga adalah kata "tetangga."

Ini tentang bagaimana membawa jiwa itu ke tempat yang belum dijelajahi — dunia digital. Dengan cara yang hanya TUKU bisa.

Yang Kami Amati

80% tetangga TUKU
tidak terlihat.

Mereka datang. Minum Es Kopi Susu Tetangga. Tersenyum ke barista. Dan pergi.

TUKU tidak punya cara menyapa mereka lagi. Tidak ada data. Tidak ada koneksi lanjutan.

Mereka mencintai TUKU — tapi TUKU belum bisa membalas cinta itu secara digital. Kartu Rukun Tetangga sudah ada. Namanya sempurna. Jiwanya benar. Tapi infrastrukturnya belum mencerminkan kebesaran visinya.

Setiap brand kopi di dunia membangun
loyalty program.

TUKU bisa membangun
yang belum pernah ada:
sebuah rukun tetangga.

MEREKA

Reward karena kamu belanja.

TUKU

Reward karena kamu tetangga yang baik.

Tiga Pilar

Arsitektur
Rukun Tetangga Digital

01
🏠

Rumah

Your store. Your people.

Setiap tetangga punya 'rumah' — toko TUKU-nya. Bukan sekadar lokasi, tapi komunitas kecil. Kamu kenal baristanya. Ada event khusus untuk warganya. Dan ketika berkunjung ke TUKU di kota lain — kamu bukan orang asing. Kamu tetangga berkunjung.

02
📖

Cerita

Every cup tells a story.

630 petani. 275 perajin gula aren. Hubungan langsung yang tidak dimiliki brand manapun. Bayangkan setiap gelas terhubung ke cerita nyata — siapa petaninya, dari mana, bagaimana panen tahun ini. Commerce menjadi narasi.

03
🤝

Gotong Royong

The neighborhood helps each other.

Pilar paling berani. Mekanisme sosial, bukan transaksional. Tetangga mentraktir tetangga. Komunitas satu toko unlock pengalaman bersama. Kebaikan jadi currency. Ini bukan loyalty — ini gotong royong digital.

Yang Akan Dibicarakan Dunia

Traktir Tetangga

Konsep suspended coffee dari Napoli — dibawa ke era digital, dengan jiwa Indonesia.

Seseorang beli kopi untuk orang yang belum dikenal. Tukang ojek, mahasiswa, siapapun. Di layar barista: "Ada 3 kopi dari tetangga baik hari ini."

Dan bayangkan ini di Amsterdam — Indonesian kindness, dalam secangkir kopi, di jantung Eropa.

Ini bukan fitur. Ini filosofi yang jadi fitur. Akan diliput. Ditiru. Tapi tidak ada yang bisa meniru dengan jiwa yang sama — karena hanya TUKU yang membangun brand di atas kata "tetangga."
Dari Cipete ke Dunia

Digital backbone untuk
ekspansi global

Amsterdam buka. Bali segera. Target 100 toko. Setiap kota baru butuh infrastruktur digital yang menyatukan — tanpa kehilangan rasa lokal.

Tetangga dari Cipete liburan di Amsterdam, buka app: "Selamat datang, Tetangga Berkunjung. Barista hari ini: Anna."

Sekarang, bayangkan kamu
membuka pintu ini.

Ini bukan mockup. Ini sketsa di serbet — yang bisa kamu sentuh.

tap untuk merasakan Rukun Tetangga Digital

Kenapa Sekarang

10 tahun. Amsterdam baru buka. 80% tetangga belum tersentuh digital. Kartu Rukun Tetangga sudah ada — tinggal dihidupkan.

Ini bukan pitch dari konsultan ke klien.

Ini undangan dari tetangga ke tetangga.

Sesuatu yang belum pernah dilakukan brand kopi manapun — harus dimulai dari percakapan yang jujur, di atas secangkir Kopi Susu Tetangga.